Kala Sendiri Ku …

Posted: August 7, 2007 in CeRpeN

Udara Bogor yang dingin masih terasa meskipun mentari telah bersinar cerah hampir di atas cakrawala. Hembusan angin yang basah makin membuat kota ini serasa berada di atas gunung. Sebagian mahasiswa baru sudah mulai aktif dengan kegiatannya, berjalan tergesa atau hanya sekedar duduk bersenda tawa. Hampir setiap tahun baru memang udara di Bogor yang sudah dingin semakin dingin, seolah menyambut mereka yang baru menapaki kota ini. Inilah Bogor, kota yang dingin.

Gita berjalan perlahan sambil merekatkan jaketnya ke tubuhnya. Ke kampus saat ini sebenarnya kegiatan yang membosankan. Bukan hanya karena udara nya yang tidak bersahabat, tetapi juga karena ada yang hilang dan tidak menemaninya seperti biasanya. Sosok seorang Rio yang tak mungkin dia temui di kampus ini seperti hari-hari yang lalu. Beberapa temannya terlihat ceria menyapanya, tetap saja tidak merubah kegundahannya. Ah, Why I felt so empty in fact in the first day without him. Batin Gita sedih. Kesedihan ini bukan hanya karena dia telah pergi, tapi juga Gita seolah tidak rela saat melepasnya pergi. Dan hal ini menjadi penyesalan hingga jadi beban yang menggayut manja di relung hatinya dan tidak mau pergi.

jalan kok sambil ngelamun seh Git” sapa Dion ramah. Gita hanya tersenyum kecut.

kemana yang lain Di, kok nggak kelihatan”

bentar lagi juga datang, macet kali” jawab dion sambil cengengesan. Gita tersenyum geli melihat tawa sahabatnya ini.

ya udah, aku ke kelas duluan ya” ucap Gita akhirnya sambil melambaikan tangan pada Dion. Dion hanya menganggukkan kepalanya sambil matanya tidak lepas dari video gamenya.

Gita mendapati ruang kelasnya kosong, dia berjalan menuju jendela yang terbuka. Tangannya sibuk mencari nomor telpon di handphonenya kemudian menghubunginya. Dan yang terjadi sama, hanya jawaban dari suara customer sevice. Handphone Rio tetap tidak aktif. Berbagai pikiran buruk mulai menari di benaknya. Tuhan …. lindungi lah Rio. I didn’t want something that was bad to happen to him. Doa Gita pelan dalam hati.

Gita mencoba menyibukkan diri dengan buku-bukunya, tapi tidak satu katapun yang singgah di otaknya. Sudut matanya melirik jam tangan, sudah jam 11 siang. Gita menyesal karena tadi pagi tidak bisa mengantarkan keberangkatannya, tapi dia bilang kalau jam 7 pagi sudah berangkat. Berarti sudah 5 jam berlalu, sebenarnya sudah berada dimankah dia sekarang. Why did his mobile phone be inactive . Seberapa jauhkah tanah kelahirannya dari sini. Gita tak bisa membayangkan karena dia sendiri belum pernah pergi ke sana. Hanya dalam lamunannya saja.

Pikirannya mengembara pada kejadian semalam. Bagaimana kesalnya Gita saat Rio hanya menemuinya beberapa menit saja untuk berpamitan pulang pagi hari ini. Rio memang telah mengatakan kalau akan pulang dalam minggu-minggu ini, tapi dia tidak memberinya waktu yang cukup untuk bersamanya. Dia lebih mengutamakan kegiatannya yang lain daripada bersama kekasihnya. Dan akhirnya Rio benar-benar pergi, Gita kini sibuk dengan rasa galau melepas Rio begitu saja. Semula Gita ingin tidak menghubunginya, dia ingin lihat seberapa perhatiannya kah dia padanya jika jauh. Atau mungkin justru tidak menghubunginya sama sekali. Tapi dia tidak punya kekuatan hati untuk melakukannya, sisi hatinya yang lain terlalu kuat untuk mengabaikan keberadaan Rio di dalam hatinya.



****************



Hari berlalu begitu lambat, seolah memberi waktu yang panjang pada Gita untuk bermain dengan pikirannya. Mentari sudah mulai meredup, angin mulai berhembus semakin dingin dan semakin membekukan hati Gita. Entah sudah berapa puluh kali dia memencet nomor telpon Rio tapi yang terdengar hanya suara merdu dari operator seluler. Bahkan report dari sms yang dia kirim pun belum juga masuk. Di belahan dunia manakah sebenarnya tanah kelahirannya itu hingga di luar service area operator seluler itu. Terjadi sesuatukah dengan dirimu ? Atau marahkah kamu hingga mematikan handphonemu? Gita merasa sesak dengan semua pikiran yang berkecamuk di benaknya, melemparkan handphonenya begitu saja dan menutupi kepalanya dengan batal agar bisa tertidur sejenak melupakan Rio. Tapi yang ada malah kepala yang sakit memikirkan keberadaannya.

Gita beranjak dari kamarnya dan mencari obat untuk meredakan sakitnya, mungkin setelahnya dia akan mengantuk dan tertidur. Pikirnya. Tapi kantuk itu tak juga datang, dan membuat Gita semakin tidak tenang. Gita mengamati kalender kecil di meja belajarnya, masih sembilan hari lagi dari hari kedatangannya kesini. Atau mungkin lebih. Tangannya mulai menari diatas buku dan termenung kosong. Apa yang ingin dia tulis, apa yang ingin dia katakan. Padahal banyak sekali hal yang bergayut di pikirannya yang ingin dia ceritakan. Tapi dia tak bisa menguraikannya, bahkan ke dalam buku hariannya.

Masihkah ada …
Untuk ku memulai cerita ini
Sedangkan cinta mu tak pernah pasti
Atau aku yang rindu menanti
Dan engkau hanya diam sendiri

Masihkah ada ….
Waktuku mencari kata yang pasti
Sedangkan engkau entah di mana kini
Atau aku yang masih sudi
Menatapi mu di saat bayang mu pergi

Masihkah ada …
Hariku menelusuri titik awal cerita ini
Sedangkan ceritanya telah pergi
Atau mencari titik akhirnya
Ketika cerita ini baru di mulai

Gita berulang kali membacanya, dan tidak tahu apa yang akan di tulisnya lagi. Sesaat dia terlena dalam dekapan boneka beruangnya, mengembara dalam lamunannya dan dikejutkan oleh suara handphonenya. Dia mendapati report sms nya pada Rio baru saja masuk, itu artinya handphonenya baru saja aktif. Dia mencoba menghubunginya, hatinya terlonjak gembira saat mendapati nada sambung, tapi Rio tidak mengangkatnya. Why … what happened with U…

Jemari Gita lincah menuliskan kata ” sekarang kamu di mana, hp mu baru aktif ya” sesaat dia mengirimkannya. Tapi dia juga harus menunggu lama karena Rio tidak juga membalasnya. Gita kembali bermain dengan pikirannya. Why … dan tak pernah ada jawabannya.

Gita akhirnya terbuai dalam mimpi, mimpi yang begitu nyata hingga seolah dia bisa merasakan saat Rio mencium tangannya. Merasakan kehadiran Rio di rumahnya, memeluknya dengan wajah sesal dan sedih seolah ingin mengucapkan maaf yang tertahan di relung hati. Dan hanya bisa mencium lembut tangan Gita. Semuanya begitu nyata. Hingga saat Gita ingin bertanya mengapa …. bayangan itu menghilang dan yang ada hanya kehampaan. Mimpinya tercabik oleh bunyi sms handphonenya.

“Sorry, baru bisa balas. Pulsaku habis dan baru beli. Aku sekarang sudah ada di Jambi” setengah terkantuk Gita menyermati kata-kata Rio. Jambi ? Entah di mana kota itu berada. Gita sendiri belum pernah melanglang buana ke sana. Yang dia tahu kota itu ada di Sumatera, entah di ujung mana.

“kamu dengan siapa, apa sendiri. ya sudah, kamu hati-hati ya” Gita termenung sesaat dan bingung apa yang harus dia katakan sama Rio. Seolah dia kehilangan kata setelah kehilangan Rio beberapa saat.

” iya, kamu di mana sekarang”

” aku di rumah, agak tidak enak badan. Berarti kamu besok masih di situ ya. Kalau bisa besok ke internet, aku pengen chat sama kamu”

“Insya allah ” balas Rio singkat. Ada kelegaan dalam hati Gita yang mengurangi beban di hatinya. Setidaknya kini dia tahu kalau tak ada sesuatu yang buruk terjadi padanya. Tapi kini justru dia termenung memikirkan arti mimpi yang baru saja menghampirinya. Ada apa dengan kamu sebenarnya Rio.

Gita terdiam, adakah sesuatu yang ingin Rio sampaikan padanya di sana. Adakah permintaan maaf darinya seperti dalam mimpi ? Tapi maaf untuk apa … ?? Adakah suatu kebohongan yang tercipta tanpa di athu. Pikiran Gita kembali mengelana pada hari kemarin … dan dia tak menemukan jawabnya. Tapi Gita yakin, sebagaimana dia yakin pada firasat sebelumnya kalau ada sesuatu yang Rio sembunyikan darinya. Sesaat rasa perih mengiris hatinya, dan Gita mulai mengurai cerita mengikuti kata hati … dan dia tahu. Dia tahu apa yang terjadi dan yang telah terjadi. Tapi dia tidak tahu kapan akan mendapatkan jawabnya. Mungkin besok, lusa seminggu lagi, dua mingu lagi atau dia tidak akan pernah tahu jawabnya.


Jika sesuatu itu rahasia
Takkan bisa kita mencari
Makna di belakangnya

Jika sesuatu itu rahasia
Kita tiba-tiba ragu pada kejujuran
Atau kesetiaan yang lama terpendam

Jika sesuatu itu rahasia
Cuma kita dapat menduga
Dan biasanya hanya prasangka

Jadi …

apakah yang bisa kita ungkapkan
Jika sesuatu itu rahasia


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s