Anak Sekecil itu …

Posted: August 8, 2007 in CeRpeN, Renungan

Di tengah malam kota Malang pada pertengahan 2006, ada suatu kisah yang sampai kini masih terekam jelas di ingatan ku dan jadi motivasi aku kalau di suatu waktu aku merasa down dalam menjalani hidup ini. Dan aku terinspirasi buat di tuliskan di sini.

Malam itu, aku dan Andy mengeluarkan mikrolet dari garasi. Sebenarnya bukan untuk kerja, jalan2 atau pun cari makan, tapi kita ingin cari bensin di pom yang buka hingga tengah malam. Yang kita tuju waktu itu Pom bensin daerah Sawahan. Sambil jalan kita membuka pintu mikrolet siapa tahu ada penumpang di tengah malam, hitung2 lumayan buat nambah beli bensin sekalian jalan. Sampai di daerah Oro-oro dowo, ada 2 penumpang yang mau ngikut dari arah gang. Alhamdulillah, lumayan. Di depan gang persis di sebelah mikrolet ku, ada seorang anak yang berdiri seperti bingung mau kemana. Sambil menunggu penumpang yang masih jalan tersebut, aku mengamatinya. Umurnya sekitar 8 tahun an, masih SD karena dia masih memakai celana merah, sepatu sama tas gendong di punggungnya yang sudah lusuh. Mungkin kalau aku sekolah dulu, aku sudah tidak mau memakainya lagi. Ditangannya ada tas yang biasa di pakai ibu2 kalau belanja, sementara di kepalanya menyunggi nampan besar yang terbuat dari bambu. Sesaat aku bertanya2, sedang apakah anak itu ? Apa yang di bawanya ? Hendak kemanakah malam2 begini ? dan dari pada aku bingung dengan pertanyaan yang tidak mungkin terjawab itu, aku memberanikan diri untuk menyapanya.

“mau kemana dek”

“oh, gak kemana-mana mbak” jawab anak itu dengan bahasa jawa yang halus.

“lah itu apa yang di bawa”

“ini gorengan mbak, aku jualan gorengan”

Gorengan ?? aku tahu maksudnya. yang tidak aku tahu kenapa dia jual gorengan malam2 begini. sesaat ada rasa trenyuh yang hadir di hatiku.

“udah malam begini gak pulang ta dek, besok jualan lagi”

“gorengannya masih banyak mbak”

lagi2 aku terdiam. anak sekecil ini …. kenapa sudah merasakan derita. sesaat aku ingin membantu tp bagaimana.

“emang jaulan gorengan apa aja dek. coba aku lihat” akhirnya, meski enggan makan malam2 aku mengeluarkan uang 5000 perak untuk membeli gorengan anak itu. Mungkin hanya dengan cara itu aku bisa membantu nya. walaupun aku nggak tahu apa nanti di makan sama orang2 di rumah atau gak karena aku yakin di rumah orang2 sudah tidur.

“rumahnya emang di mana dek”

“di Ki ageng gribig mbak”

lagi-lagi aku tertegun kaget, daerah itu cukup jauh dari jarak aku berada malam itu, di sebelahnya daerah sawojajar. Naik mikrolet harus 2x, kalau jalan aku gak bisa membayangkan, mungkin bisa berjam-jam.

“tiap hari jualan kayak gini ya dik”

“nggak mbak, biasanya aku jualan di sekolah saja. Biasanya Ibuku yang jualan, tapi Ibuku lagi sakit mbak. Jadi aku yang jualan”

Ya allah …. aku sampai mau menangis mendengar jawaban demi jawaban dari anak ini. apalagi aku tidak melihat letih ataupun kesal dalam raut wajahnya. tampangnya masih polos dan terlihat lucu layaknya anak-anak seusianya. Suaranya juga kalem dan sopan dengan gaya bahasa jawa yang halus. Dia begitu ikhlas menerima semuanya, tidak ada sedikitpun kesan mengeluh atas apa yang dia jalani sekarang.

Dua penumpang yang kami tunggu akhirnya masuk juga ke dalam mikrolet. Anak itu menyerahkan gorengan yang aku beli tadi.

” ini mbak gorengannya, matur nuwun ya mbak” ucapnya kalem.

“iya dek, ayo sekalian ikut. Nanti kan bisa oper jalur MK di pasar besar. ”

” Gak usah mbak, matur nuwun. aku jalan saja sambil jualan, siapa tahu ada yang mau beli mbak”

“lho, gak papa dek. Gak usah bayar kok, ayo sekalian”

“matur nuwun mbak, gak usah. aku masih jualan” lagi-lagi anak itu menolak.

Dan akhirnya kami meninggalkan anak itu berjalan sendiri di tengah malam sambil menjajakan gorengannya. Dari kaca spion aku masih belum bisa melepaskan bayangan anak itu berjalan sendiri. Tidak ada sedikitpun kesan mengeluh atas apa yang dia jalani sekarang. Tidak ada kesan marah dalam nada bicaranya. Dia begitu ikhlas menerima semuanya. Dia begitu ikhlas membantu ibunya yang sedang sakit. Padahal di tengah kota ini banyak anak-anak yang seusianya mengamen ataupun bahkan meminta-minta. tapi dia lebih memilih untuk berjualan.

Anak sekecil itu, seharusnya dia sedang asyik bermain dengan teman-temannya tanpa perlu memikirkan kebutuhan hidup. Anak sekecil itu harusnya sekarang sedang terbuai dalam mimpi-mimpi di tengah kota malam yang dingin ini. Tapi anak sekecil itu malam ini masih bergelut dengan waktu sepulang sekolah tadi untuk memenuhi kebutuhan hidup dirinya dan ibunya.

Aku ingat adikku, ferdy yang kini duduk di bangku SMP. Sampai sekarang dia masih dimanjakan dengan mainan dan game PS nya. Atau adikku Lilis yang di SD juga tidak kekurangan. Apalagi masa kecil ku dulu, aku bahkan seperti putri kecil yang selalu mendapatkan apa yang aku mau. Bahkan aku tidak pernah memikirkan bagaimana orang tuaku mendapatkan uang untuk membiayai kelima anaknya karena dalam pikiran ku yang ada hanya dunia anak-anak yang begitu menyenangkan. ya … seharusnya memang begitu.

Aku terdiam selama perjalanan …. ah, betapa tidak adilnya hidup ini. Harusnya dia juga tengah bermain dengan impian-impiannya. Atau aku yang terlalu bermimpi dengan harapan. Ada rasa kagum terbersit dalam hatiku … Tiba-tiba aku merasa begitu kecil, apa yang aku alami saat ini belum seberapa di bandingkan beban yang harus dia tanggung. setidaknya dalam usia ku dulu aku tidak merasakan derita seperti apa yang dia rasa. Apa yang aku rasakan sekarang setelah aku dewasa, bisa bekerja, bisa menghasilkan uang sendiri dan sudah mempunyai pendidikan yang cukup untuk modal masa depan ku. Sementara dia ….

Sering kita mengeluh atas apa yang kita alami padahal di sana masih banyak orang-orang yang kurang beruntung bahkan sedari mereka anak-anak. Mungkin malam itu Tuhan menunjukkannya. Dan sejak saat itu … aku sering mencari sosok mungil anak itu di malam hari, tapi hingga kini aku tak pernah menemukannya lagi. Entah di mana dia sekarang dan entah bagaimana keadaannya. Aku hanya berharap apa yang dia alami , akan ada perubahan di masa yang akan datang.

Comments
  1. nglithis says:

    Duh ceritanya mbak buat aku meneteskan air mata. Makasih ya pengalamnnya membuat hidup ini lebih semangat. Mestinya kita harus bersyukur dengan keadaan yang kita miliki sekarang ini dan tidak enggan untuk berbagi kepada sesama.
    Salam kenal mbak

  2. ZaNdE says:

    @nglithis
    ya bener itu …😀 met kenal juga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s