Sepotong pelajaran hati

Posted: May 5, 2011 in Cuap-cuap, Renungan

Terkadang pelajaran yang paling berharga itu datang dari diri sendiri, bukan dari orang lain. Ini tentang pelajaran bagaimana kita bisa ukur diri, sambil menyadari bahwa terkadang diri kita nggak sekuat yang kita kira.

Aku selalu ingat kalimat Ibu ku yang selalu tersemat dalam tiap nasehatnya “Jika kamu merasa sudah lelah berjalan, jika kamu merasa tak kuat menahan beban … maka itu waktunya kamu tuk bersujud, berdoa dalam tahajud dan menitipkan semua pada Ilahi”
Aku belajar banyak dari semua ini, dan harus terus belajar dari segala sisinya. Sambil tetap menikmatinya.

Pikiranlah yang mengendalikan diri, raga sulit mengendalikan dirinya dari dorongan keinginan yang aku tahu tidak seharusnya di turuti bahkan di Saat hati ingin berpikir positif. Mungkin, Sekarang saatnya untuk kembali, menyelaraskan otak dengan badan, fokus, perlahan mengembalikan semua ke track-nya.

Sopir saja perlu menginjak rem nya di kala ngebut jika tak ingin di sambut maut. Komputer saja perlu di matikan, di istirahatkan jika telah di gunakan dlm waktu yang berkepanjangan. Burung saja butuh waktu untuk belajar terbang. Apalagi diri manusia, yang hanya terbuat dari tulang, daging, dan darah.

Ada bagian lain dari diri yang mendorong untuk melakukan hal yang tidak ingin dilakukan. Seringkali merasa konflik. Dan, yang menang adalah bagian yang paling sulit untuk melakukan hal yang sebenarnya yang tidak perlu di lakukan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s